Langsung ke konten utama

Terbiasa Menjadi Munafik

Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Waktu baca bagian ini, aku menjadi agak gelisah, jadi teringat sesuatu, bahwa setiap orang haus akan pengakuan (termasuk aku juga), setiap orang ingin diakui keberadaannya, kalau ada yg bilang, "enggak kok, aku malah cenderung gak suka jadi objek perhatian." Mungkin memang tidak suka diperhatikan oleh banyak orang, tp minimal berusaha agar diakui keberadaannya oleh keluarga, teman, seseorang yang disayang, dll.

Bentuknya bisa dari pencapaian akademik, karya-karya baik seni dan talenta, barang-barang mewah yang dimiliki, pekerjaan yg mapan, traveling ke tempat2 yang indah, keluarga yang harmonis dan bahagia, dan parahnya lagi difasilitasi oleh berbagai sosial media. Kalo dlu ditunjukkannya secara fisik, sekarang tinggal klik upload, dan belum tentu itu miliknya. Akupun jadi menyadari ada sebuah hal yang awalnya aku anggap biasa saja tapi karena terbiasa jadi malah menjadi bencana, kita jadi kecanduan sosmed. Bagaimana dampak sosial media membuat orang2 berlomba-lomba mengejar pengakuan orang lain, tombol like/love atau view dr orang lain menggambarkan harga dirinya. Makin banyak tanda2 itu maka makin diakuilah dirinya. Bahkan sampe jadi fakir like, "eh dilike dong", "eh, follback dong". Kuatir banget kalau yg like dikit, kuatir banget followernya dikit, sampe niat beli follower.

Dan itulah yang perlahan merasukiku saat ini, udah jomblo, sering merasa kesepian pulak(lah kok curhat) 😂😂😂 kalau tidak waspada, akhirnya berusaha menipu banyak orang dengan status-status atau foto2 kece, niatnya agar makin dilihat dan disukai banyak orang (dan bikin orang iri ama kita hahaha).

Orang munafik menunjukkan eksistensi dirinya agar dilihat orang dan sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Ini teguran banget buat aku. Banget banget banget.

Sejujurnya, hampir setiap orang menaruh versi diri mereka yang terbaik di sosmed. Apa yang kita lihat di sosmed kebanyakan tidak seutuhnya benar dan jujur. Sebuah studi menyatakan ketika seseorang mengalami masalah finansial, mereka suka posting gambar kehidupan mereka yang mewah dan banyak uang, ketika seseorang mengalami masalah pernikahan, mereka akan posting gambar keluarganya yg harmonis dan bahagia. Orang2 cenderung menyembunyikan perasaan mereka yang tidak aman.

Kamu follow teman kamu, semua foto2nya bagus, estetik, keren, tempat-tempatnya bagus, kayaknya hidupnya enak bener, seneng-seneng bae... Kamu tidak tahu bahwa ternyata ia sedang bergumul dengan gambar diri, dia selalu mencoba ingin bunuh diri, dia sedang patah hati, keluarganya kacau berantakan. Lagian mana ada sih orang posting hal-hal jelek di sosmednya, gambar yg diupload dan temennya komen, "km agak gendutan ya", langsung diapus 😂😂😂.

Kembali mempertanyakan lagi, apa aku benar-benar butuh sosial media? Kalau iya, apa motivasi utamaku?

Roma 14:19 (TB) 
Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun

Apakah aku sudah menggunakan sosial media untuk mendatangkan damai sejahtera? Untuk membangun orang lain?

Jadi guys, kalau kalian liat di sosmedku ada status dan gambar bagus, jangan percaya 100% hidupku lebih baik dari hidup kalian. Keberadaanku seutuhnya bukan dari sosmed (sosmed itu mudah dimanipulasi). Keberadaanku seutuhnya adalah orang yang juga memiliki banyak pergumulan, dan hidup dari belas kasih Tuhan semata.

Ya Tuhan, mampukan aku untuk mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan berguna untuk saling membangun. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Pernah Sama

 Hidup itu tidak pernah sama, miliaran orang di muka bumi ini memiliki jalan kehidupannya masing-masing. Memiliki pilihan masing-masing. Tidak pernah akan sama. Kenapa ya ketika melihat kehidupan orang lain, aku selalu merasa ingin merasakan menjadi seperti mereka. Setiap hari aku selalu bertanya di dalam kepala dan benakku, kenapa jalan hidupku seperti ini. Kenapa aku tidak bisa seperti orang-orang pada umumnya yang sepantaran usianya sepertiku. Di usiaku ini seharusnya aku sudah memiliki pekerjaan mapan, menikah, menyenangkan orang tua dan keluarga. Tetapi aku belum bisa. Terkadang aku merasa gagal, apa yang telah kulakukan selama ini? Kenapa jalan-jalan yang kupilih rasanya jauh dan lambat.  Kita seharusnya tidak membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, kita harus bersyukur untuk apapun yang kita miliki. Ya aku setuju, tetapi kenapa ya aku selalu saja tergoda untuk memimpikan kehidupan orang lain. Andai saja aku seperti dia, andai saja aku memilih jalan seperti di...

Maafkan Aku, Diriku

Maafkan aku ya diriku, aku terlalu pengecut sehingga aku lebih memilih melarikan diri dan bersembunyi. Aku merasa sebuah proses begitu melelahkan, padahal aku membutuhkannya. Aku terlalu terlena mencari kenyamanan diri, sehingga aku lupa bahwa hidup tidak selalu indah seperti foto/video yang dishare di media sosial. Aku lupa bahwa hidup itu bukan media sosial. Aku terlalu sibuk merapikan yang di luar, aku lupa untuk mengasah apa yang ada di dalam. Maafkan aku ya diriku, aku lebih suka mendengar apa kata orang daripada apa yang benar untuk dilakukan sehingga aku membuatmu terombang-ambing. Membuatku terkurung pada pikiran-pikiran sempit dan berjalan pada lorong sempit yang dilewati oleh kebanyakan orang. aku lupa bahwa aku perlu keluar lorong untuk melihat langit dan padang rumput yang luas. Apa sebenarnya yang kucari? apa sebenarnya yang kuinginkan? apa yang benar-benar aku butuhkan? apa sebenarnya yang membuatku seolah terburu-buru dalam menjalani kehidupan. Tak pernah aku melihat tah...

[CERPEN] Cerdik Bukan Licik, Tulus Bukan Bulus.

Selain pandai menyimpan dendam, si Elam dikenal pandai menyimpan uang alias menabung dibandingkan anggota keluarga yang lain. Walau hidup susah, Elam selalu memegang erat ajaran gurunya bu Morela yaitu, “Hemat pangkal kaya”. Eh sebentar, nampaknya pepatah ini tidak asing dan sepertinya kurang lengkap. Oh iya, kalimat awalnya sengaja ia abaikan, mungkin karena kata “Kaya” lebih menarik perhatiannya. “Biarlah gak rajin belajar, yang penting pandai berhemat, lagian siapa yang tidak mau jadi kaya? Siapa yang mau hidup susah terus?”, pikirnya. Dia tidak benar-benar memahami pepatah itu seutuhnya, karena otaknya yang begitu cetek. Walaupun begitu, ia memang dikenal pandai berhemat bukan karena ia memiliki banyak uang untuk ditabung, tetapi karena hidup yang susah mengharuskan ia untuk hidup hemat, entah hemat atau kikir beda tipis seperti paman Gober. Tapi minimal ada hal positif yang dia teladani dari paman Gober yaitu hidup hemat, sehingga bisa menabung. Pertanyaannya adalah bagaimana ...