Langsung ke konten utama

Selesai Babak yang Ini

Dari November 2012 saya mengumpulkan proposal Skripsi, dan berjalan dengan mulus sampai tangan pembimbing pada bulan februari 2013, Semuanya berjalan begitu saja tanpa hambatan, Saya mendapatkan pembimbing yang saya ajukan sendiri walaupun saya tidak tahu pembimbing-pembimbing ini seperti apa dan karakter mereka seperti apa, karena selama kuliah saya tidak terlalu dekat dengan teman-teman kampus dan dosen-dosen di kampus, karena karakter saya yang sangat sungkan. Topik saya tidak ada direvisi sama sekali, ini artinya bahwa saya bisa maju bebas hambatan di awal. Tapi itu baru awal mula dari perjalanan panjang saya melawan diri sendiri. Saya sendiri juga tidak mau berlama-lama pada step ini. Perjalanan dari februari sampai Agustus yang tidak selalu menemukan titik terang tp bersyukur terang Tuhan selalu menjernihkan pikiran saya perlahan-lahan. Saya semakin menyadari siapa saya dan diri saya di hadapan Allah. Benar-benar perjalanan yang penuh kesedihan dan sukacita selama mengerjakan ini. Terkadang merasa sendiri, merasa buntu, sampai detik2 terakhir di tahun 2013, semuanya semakin menampakkan terang yang semakin besar seiring bertumbuhnya iman saya kepadaNya untuk terus bergantung dan mengandalkan Dia, Terpujilah Tuhan, Pujilah Dia hai jiwaku selama-lamanya.

Selama tahun 2013, saya merasakan semua monster dalam diri saya keluar, setelah sekian lama saya tekan. Selama pengerjaan skripsi ini, saya banyak meratapi kebodohan saya, kegagalan saya, sempat rasanya ingin menghentikan hidup sejenak, sempat ingin mundur rasanya. Tp SalibNya membuat saya malu dan menampar diri saya sendiri. SalibNya membawa saya untuk terus datang padaNya. SalibNya menyertai setiap langkah perjalanan saya yang lemah dan kritis. SalibNya menjadi kekuatan bagi saya untuk menggapai rencanaNya, bukan rencana saya. Kelelahan saya memuncak saat saya memutuskan untuk konsultasi psikologi untuk meminta pertolongan mengenai apa yang salah pada diri saya, lalu konsultasi pada konselor, mengikuti konsultasi pemulihan untuk semakin membuka diri saya di hadapan Allah dengan bantuan hambaNya. Saya putus asa, saya bingung, sampai pernah saya bilang sama Tuhan apa saya lewat jalur lain saja ya yang penting lulus dulu. Tetapi Dia tidak membiarkan saya putus asa dengan pikiran-pikiran saya sendiri, Dia tidak menyerah dengan saya yang keras kepala dan mudah menyerah.

Betapa banyak hal dan pengalaman serta kegagalan, sukacita, yang saya alami di tahun 2013, yang kata orang, angka 13 pada tahun 2013 merupakan tahun sial. Pada awalnya saya merasa mungkin tahun ini adalah tahun sial bagi saya, tp Allah tidak pernah menyatakan bahwa tahun ini adalah kesialan saya, iblis dan pikiran saya yang menganggap itu sebagai tahun sial. Saya justru belajar di tahun 2013 kemarin, Allah menunjukkan monster2 dalam diri saya yang menghambat persekutuan saya denganNya, dan tahun 2013 ini juga sebagai pembuka baru perjalanan iman saya kepada Allah. Tahun 2013, saya aman dalam naunganNya, saya aman dan tenang walau diterpa banyak badai. Badai yang berasal dari diri sendiri. Tahun 2013 adalah babak pembuka untuk saya agar tidak menekan monster2 yang ada dalam diri saya, tahun 2013 menjadi ronde pertama saya melawan monster dari diri sendiri, belajar mengasihi diri sendiri, tidak selalu tenggelam dalam kondisi mengasihani diri sendiri. Walau bingung dengan diri sendiri, tp belajar untuk terus menaruh FirmanNya di atas segala yang saya lakukan agar teranglah jalan setapak yang saya lalui.

Saya sangat mengucap syukur hari ini 7 Januari 2014, artikel ilmiah yang saya buat boleh selesai sesuai dengan revisi dosen pembimbing pertama. Iman yang Allah bentuk di tahun 2013 kemarin, semakin mendorong saya untuk terus percaya dan setia pada janji Allah. Allah dengan caraNya yang mengejutkan, mampu membuat saya tersenyum walau berada di tengah hujan badai yang mengerikan.

Bapa, ampuni saya yang bodoh dan hina ini, terima kasih untuk peryertaanMu di dalam kamar yang sunyi dan dingin ini, Kau yang memberikan kehangatan kepada hati yang beku ini dari semula dan akhir nanti. Saya ingin terus berjalan denganMu. Bapaku yang setia, Bapaku yang penuh kasih. Walau liburan kemarin saya banyak bertengkar dengan ayah saya dan hal ini mampu merusak hubungan saya denganMu. Bapa pulihkan gambaran seorang Bapa seperti Engkau yang adaah Bapa penuh kasih, dalam hati dan pikiran saya. Saya percaya padaMu dan saya mau melanjutkan lagi perjalanan hidup ini bersamaMu. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Pernah Sama

 Hidup itu tidak pernah sama, miliaran orang di muka bumi ini memiliki jalan kehidupannya masing-masing. Memiliki pilihan masing-masing. Tidak pernah akan sama. Kenapa ya ketika melihat kehidupan orang lain, aku selalu merasa ingin merasakan menjadi seperti mereka. Setiap hari aku selalu bertanya di dalam kepala dan benakku, kenapa jalan hidupku seperti ini. Kenapa aku tidak bisa seperti orang-orang pada umumnya yang sepantaran usianya sepertiku. Di usiaku ini seharusnya aku sudah memiliki pekerjaan mapan, menikah, menyenangkan orang tua dan keluarga. Tetapi aku belum bisa. Terkadang aku merasa gagal, apa yang telah kulakukan selama ini? Kenapa jalan-jalan yang kupilih rasanya jauh dan lambat.  Kita seharusnya tidak membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, kita harus bersyukur untuk apapun yang kita miliki. Ya aku setuju, tetapi kenapa ya aku selalu saja tergoda untuk memimpikan kehidupan orang lain. Andai saja aku seperti dia, andai saja aku memilih jalan seperti di...

[CERPEN] Semua Gara-gara Iklan

Hari itu cerah sedikit berawan berbentuk seperti kue serabi, melihat awan saja rasanya sudah kenyang. Entah kerasukan apa, Elam tiba-tiba mengambil gunting dan pergi ke dapur. Di dapur ada nenek dan ibunya sedang mempersiapkan makan siang. Ia ke dapur dengan tergesa-gesa sambil memegang sebuah gunting besar. "Kamu ngapain ke sini bawa gunting?", tanya neneknya sambil melihat gunting di tangannya dengan posisi waspada. Elam dengan mata melotot menghiraukan pertanyaan neneknya. Makin kuatir dengan kondisi cucunya yang memang agak aneh itu, si nenek mendekat ke menantunya, "Kenapa itu si bocah?". "Udah biarin aja nek, paling dia habis kena hipnotis", kata ibunya Elam. Dengan dahi mengerut, si nenek kembali mengupas bawang merah yang sempat membuat matanya berair sambil menghiraukan Elam yang seperti orang kehilangan mencari sesuatu di setiap laci, wadah, lemari, bawah meja, dalam toples, dan sudut-sudut dapur. "Kayaknya aku pernah liat itu barang di dapu...

Maafkan Aku, Diriku

Maafkan aku ya diriku, aku terlalu pengecut sehingga aku lebih memilih melarikan diri dan bersembunyi. Aku merasa sebuah proses begitu melelahkan, padahal aku membutuhkannya. Aku terlalu terlena mencari kenyamanan diri, sehingga aku lupa bahwa hidup tidak selalu indah seperti foto/video yang dishare di media sosial. Aku lupa bahwa hidup itu bukan media sosial. Aku terlalu sibuk merapikan yang di luar, aku lupa untuk mengasah apa yang ada di dalam. Maafkan aku ya diriku, aku lebih suka mendengar apa kata orang daripada apa yang benar untuk dilakukan sehingga aku membuatmu terombang-ambing. Membuatku terkurung pada pikiran-pikiran sempit dan berjalan pada lorong sempit yang dilewati oleh kebanyakan orang. aku lupa bahwa aku perlu keluar lorong untuk melihat langit dan padang rumput yang luas. Apa sebenarnya yang kucari? apa sebenarnya yang kuinginkan? apa yang benar-benar aku butuhkan? apa sebenarnya yang membuatku seolah terburu-buru dalam menjalani kehidupan. Tak pernah aku melihat tah...