Langsung ke konten utama

Postingan

Sekolah Sepi #2

Aku merasa semua memori menyerangku bertubi-tubi ketika aku menginjakkan kaki tepat di gerbang sekolah dasarku dulu. Gerbang yang sebenarnya dulu jarang aku lewati karena selama bersekolah di situ aku selalu datang terlambat jadi selalu lewat gerbang belakang dan bersiap untuk menerima hukuman dari guru. Hampir semua jenis hukuman sudah aku rasakan, mulai dari yang ringan hanya berdiri dengan posisi hormat di depan tiang bendera. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya kenapa harus ada hukuman seperti itu, aku tidak merasakan ada sesuatu yang aku harus pelajari selain menggerutu karena kepanasan dan lengan yang lelah. Atau hukuman menjadi pemimpin senam di depan, awalnya aku malu tetapi hukuman ini lebih berfaedah, selain aku menjadi lebih sehat, aku juga kecipratan menjadi terkenal saat itu. Atau membersihkan taman sekolah dari sampah dan rumput liar. Atau membersihkan toilet umum sekolah yang tidak perlu ditanyakan kondisinya yang sangat memprihatinkan, aku sering kehilangan selera ...

Kota Sepi #1

Setelah 20 tahun, aku baru kembali ke kota masa kecilku untuk sekedar berkunjung. Kota yang tenang namun menghanyutkan. Orang dari luar pasti senang karena kota ini nampak damai dan aman terkendali. Aku masih ingat jalan-jalan kota ini, tidak banyak yang berubah. Jalan-jalan yang lebar, pohon-pohon besar di pinggir jalan, sedikit kendaraan yang melintas dan tidak pernah ada kemacetan. Hanya ramai saat anak sekolah berangkat dan pulang. Aku sengaja tidak langsung menuju rumah, aku melewati jalan yang dulu sering aku lewati. Jalan yang di pinggirnya area kantor dinas dan pemerintahan, salah satunya adalah tempat bekerja ayahku dulu. Saat pindah ke kota ini, ayahku sengaja mencari sekolah yang dekat dengan kantornya sehingga mudah untuk antar jemput. Jalan itu hanya ramai saat jam kerja atau sekolah, diluar jam itu jalanan sangat sepi. Sebenarnya bukan hanya di jalan itu saja, secara keseluruhan kota itu akan menjadi sepi selain di jam kerja. Hanya pasar saja yang selalu ramai. Aku sena...

[CERPEN] Cerdik Bukan Licik, Tulus Bukan Bulus.

Selain pandai menyimpan dendam, si Elam dikenal pandai menyimpan uang alias menabung dibandingkan anggota keluarga yang lain. Walau hidup susah, Elam selalu memegang erat ajaran gurunya bu Morela yaitu, “Hemat pangkal kaya”. Eh sebentar, nampaknya pepatah ini tidak asing dan sepertinya kurang lengkap. Oh iya, kalimat awalnya sengaja ia abaikan, mungkin karena kata “Kaya” lebih menarik perhatiannya. “Biarlah gak rajin belajar, yang penting pandai berhemat, lagian siapa yang tidak mau jadi kaya? Siapa yang mau hidup susah terus?”, pikirnya. Dia tidak benar-benar memahami pepatah itu seutuhnya, karena otaknya yang begitu cetek. Walaupun begitu, ia memang dikenal pandai berhemat bukan karena ia memiliki banyak uang untuk ditabung, tetapi karena hidup yang susah mengharuskan ia untuk hidup hemat, entah hemat atau kikir beda tipis seperti paman Gober. Tapi minimal ada hal positif yang dia teladani dari paman Gober yaitu hidup hemat, sehingga bisa menabung. Pertanyaannya adalah bagaimana ...

[CERPEN] Semua Gara-gara Iklan

Hari itu cerah sedikit berawan berbentuk seperti kue serabi, melihat awan saja rasanya sudah kenyang. Entah kerasukan apa, Elam tiba-tiba mengambil gunting dan pergi ke dapur. Di dapur ada nenek dan ibunya sedang mempersiapkan makan siang. Ia ke dapur dengan tergesa-gesa sambil memegang sebuah gunting besar. "Kamu ngapain ke sini bawa gunting?", tanya neneknya sambil melihat gunting di tangannya dengan posisi waspada. Elam dengan mata melotot menghiraukan pertanyaan neneknya. Makin kuatir dengan kondisi cucunya yang memang agak aneh itu, si nenek mendekat ke menantunya, "Kenapa itu si bocah?". "Udah biarin aja nek, paling dia habis kena hipnotis", kata ibunya Elam. Dengan dahi mengerut, si nenek kembali mengupas bawang merah yang sempat membuat matanya berair sambil menghiraukan Elam yang seperti orang kehilangan mencari sesuatu di setiap laci, wadah, lemari, bawah meja, dalam toples, dan sudut-sudut dapur. "Kayaknya aku pernah liat itu barang di dapu...

Memberi Kesempatan Pada Mimpi

Photo by  Johannes Plenio  on  Unsplash Berada di periode yang seharusnya memiliki posisi mapan, penghasilan tetap, berkeluarga,  memiliki tabungan dan investasi, dan hal-hal lainnya yang sangat lumrah untuk di kejar di usia ini. Tetapi kenyataannya tidak, ia seperti terdampar menjalani realita yang tidak dibanggakan oleh orang-orang, memulai suatu ketidakpastian yang dibenci oleh sebagian besar orang. Ya usianya hampir 30 tahun, dan ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dengan berbagai macam alasan, padahal sebenarnya ia sendiri sedang mencari alasan mengenai keberadaan dirinya.  Banyak hal yang ia coba, tetapi ia merasa tak ada satupun yang menjadi fokus utamanya. Tahun-tahun hidupnya selama ini banyak ia habiskan untuk mengejar pengakuan orang lain, sampai pada akhirnya ia berada di ujung tebing yang curam dari jalan yang telah ia lalui dengan hanya menyisakan dua pilihan yaitu terjun saja sekalian atau kembali memutar sejenak melalui jalan yang lain...

Aku Hanya Ingin Hidup seperti Ini

Untuk saat ini yang kutunggu-tunggu itu adalah sabtu off dari kerjaan, aku bisa tidur seharian, gak pegang HP seharian, idle mode all day. The sweetness of doing nothing, kalo kata orang ya. Itu nikmat banget. Gak mikirin kompetisi dengan orang lain, gak mikirin harus ini dan itu. Itu nikmat banget. Masa yang paling enak dalam hidup ini ya pas waktu jadi bayi, gak mikir apa-apa. Kalo lapar ya nangis, kalo eek ya nangis, kalo gatel ya nangis, kalo panas ya nangis, pengen apa-apa ya nangis. Bagi bayi, nangis itu penting. itu semacam cara yang paling efektif untuk menginginkan sesuatu. Enak kan, cuma nangis dan semua orang jadi sibuk untuk memperhatikan. Tp sekarang usiaku udah mau 30 aja, dan nangis tetap cara yang paling efektif tp bedanya sekarang gak ada yang peduliin sih haha, tapi minimal aku merasa lega setelah nangis. Kadang bingung mau ngomong apa, cuma pengen nangis aja, nangisin kehidupan ini, terus lanjut lagi, terus nangis lagi, ya lumayan kasih kekuatan buat menghadapi...

Pernahkah kamu ?

Aku aja atau banyak orang juga yang merasakan yang kurasakan ya ? Jadi gini, pernah gak sih kamu ingin melakukan sesuatu yang kamu suka tapi kamu ragu, kuatir kamu tidak konsisten melakukannya, kuatir kamu gagal, kuatir karena keterbatasan kamu, bla..bla..bla yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Aku sering melakukannya, buktinya banyak draft menumpuk yang tidak berani aku publish karena aku selalu merasa kurang dengan apa yang kupikirkan dan kulakukan, dan sepertinya lebih baik kekuranganku kusimpan untuk konsumsi pribadi saja, walaupun sebenarnya gak penting juga sih karena paling yang sering baca blogku ya aku sendiri, hahaha. Pernah juga gak sih kamu merasa usia terus bertambah tapi kok rasanya gak banyak hal yang sudah kamu lakukan dengan benar ? Seharusnya di usiamu sekarang kamu sudah menikah dan punya anak tapi nyatanya belum. Kamu terkurung pada perasaan rendah diri dan merasa tidak ada orang yang ingin memilikimu, lalu kamu berpikir sepertinya aku lebih cocok hidu...

Aku Akan Menjadi Apa

Coba kamu kayak anaknya temen papa, kuliah di luar negeri, sekarang udah jadi dokter... Coba kamu kayak perempuan lain, dandan, kan lebih enak dilihat... Papa heran setiap kamu pulang pasti papa harus marah-marah gini, emang kita ini gak cocok... Coba kamu lamar pekerjaan jadi ini.... itu.... Kenapa sederet kalimat itu masih terasa perih untuk didengar ? Ak

Pil Pahit Menyehatkan

Apa yang harus kukatakan lagi? Hatiku rasanya sedih Hatiku rasanya perih Aku tak tahu berapa lama lagi Harus melewati koridor yang gelap ini Kadang aku tangkap percikan cahaya Aku kira dapat bertahan lama Tapi nyatanya hanya sesaat saja Aku harus menghadapinya Ya aku harus Aku harus menerima kenyataan pahit Apapun itu Aku harus bagaimana? Aku bisa bertanya pada siapa? Jawaban apakah yang kunantikan Akupun tak tahu Yang kutahu hanyalah terus melangkah Walau kadang tertatih-tatih Kesendirian ini Rasa sepi ini Suasana sunyi ini Sangat melekat padaku Tetapi aku masih merasa kesulitan Untuk bersahabat dengan mereka Aku ingin terlihat kuat Tetapi mereka mendesak Membuat air mata tak terbendung Aku harus menghadapi kesendirian ini Aku harus menjalani rasa sepi ini Aku harus berdamai dengan mereka Aku tak bisa memanfaatkan orang lain Untuk mengisi kekosongan ini Biarlah aku dan air mata Yang merangkulnya Biarlah aku telan pil kesepian ini Meski pahit ...

Terbiasa Menjadi Munafik

Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Waktu baca bagian ini, aku menjadi agak gelisah, jadi teringat sesuatu, bahwa setiap orang haus akan pengakuan (termasuk aku juga), setiap orang ingin diakui keberadaannya, kalau ada yg bilang, "enggak kok, aku malah cenderung gak suka jadi objek perhatian." Mungkin memang tidak suka diperhatikan oleh banyak orang, tp minimal berusaha agar diakui keberadaannya oleh keluarga, teman, seseorang yang disayang, dll. Bentuknya bisa dari pencapaian akademik, karya-karya baik seni dan talenta, barang-barang mewah yang dimiliki, pekerjaan yg mapan, traveling ke tempat2 yang indah, keluarga yang harmonis dan bahagia, dan parahnya lagi difasilitasi oleh berbagai sosial media. Kalo dlu ditunjukkannya secara fisik,...

Free from Earning God's Love

Maybe we grew up being taught that God would love us more if we did something or we didn't do something. Such as, God will love us more if we do good to everybody. But the truth is God doesn't love us more if we re never been addicted to drugs, or if we've never slept around or never had an abortion, God doesn't love us more than the people who have done all those things.  He doesn't love us more because we give generously, or we are a great leader or we re a best employee or a gifted teacher, or we scored the most points. We re free from earning God's love. When we begin to understand his love and acceptance, it releases us from fearing what other people think.  Just come boldly to Him by His Grace as he said, Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest. Take my yoke on you and learn from me, because I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. For my yoke is easy to bear, and my load is not har...

Rahasia Seekor Anak Domba

Lukas 10:3 (TB) Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Luke 10:3 (NRSV) Go on your way. See, I am sending you out like lambs into the midst of wolves. Tau berapa lama domba (bahkan anak domba) akan bertahan di tengah serigala? Hahaha kita semua tau jawabannya. Bukankah sebelum kita mengenal Kristus, kita semua adalah serigala? (homo homini lupus, manusia adlh serigala bagi sesamanya) Tp apakah benar kita sudah mengenal Kristus?  Karena Kristus adalah Anak domba Allah, Dia menyebut pengikutNya anak domba. Tp benarkah kita sdh spt domba? Atau kita msh serigala berbulu domba? Atau domba bergigi serigala? Atau Serigala yang dikristenkan? Bukan sepenuhnya serigala yang diubah menjadi sepenuhnya domba? Dalam sebuah penelitian yg dilakukan oleh tim national geographic ketika mengamati kehidupan serigala dari dekat, ditemukan 3 sifat dasar serigala : agresif, sombong dan sangat egois. Sistem kehidupan kawanan serigala...

Allah Tidak Menyerah Walaupun Aku Sering Gagal

Citra diriku pelan-pelan dipulihkan, Thank God you are not giving up to me. Wajah Cuek dan jutek ini bukan berarti aku tidak mau bersosialisasi dengan orang lain, itu hanya bentuk pertahanan diri yang bertujuan agar luka hatiku tidak diusik dan tidak terulang lagi. Sebenarnya aku suka memperhatikan orang lain walaupun dari jauh, aku ingin dekat dengan orang lain, tetapi seringkali itu hanya terealisasi sebatas niat. Selalu ada ketakutan, entah takut ditolak, takut gagal dan takut jika pada akhirnya akan ditinggal sendiri lagi, seperti pengalaman yang sudah-sudah. Jadi bagiku, daripada aku memulai hubungan erat dengan orang lain yang pada akhirnya saja aku akan berpisah dengan mereka, lebih baik aku hidup sendiri sekalian. Aku bersahabat karib dengan ketakutan, walaupun orang lain mungkin melihatku sebagai pribadi yang berani dan mandiri dan hangat. Tapi sesungguhnya aku tidak sekuat itu. Sering aku mengurung diri dan meratapi kegagalanku. Aku bahkan bisa sangat melankolis menangga...

Kau Lebih Besar

Jiwaku membutuhkanMu Jiwaku yg sepi berteriak padaMu Rasa haus ini tidak tertahan lagi Dan jiwaku sadar hanya Kau lah yg mampu menyegarkannya Kau lebih besar dari dosaku Kau lebih besar dari hatiku Kau lebih besar dari pikiranku Kau lebih besar dari hidupku Kau lebih besar dari lukaku Kau lebih besar dari setiap intimidasi yg kualami Kau lebih besar dari setiap masalah yg kuhadapi Kau lebih besar. . . . Kau lebih besar dari segala hal yg selama ini kuandalkan Semuanya sia2, kekuatanku, kepandaianku, keberanianku, dan segala yg kukira milikku Sekarang aku menemukan diriku tergeletak sekarat Di hadapanMu, aku telanjang bulat Jiwaku mengetahuinya, Kau lah mesias Kau lah satu2nya penyelamat jiwaku Kau lah Sumber Air kehidupan Kau lah Yesus, Cinta Sejati.

Engkaulah Bapa Saya

Engkaulah Bapa saya. . . Engkaulah Bapa saya yg penuh kasih Engkaulah Bapa saya yg setia Yg memeluk saya, yg menghapus airmata saya, yg membersihkan dan membalut luka saya hingga sembuh. Engkaulah Bapa saya yg tdk pernah menolak saya Ketika saya terjatuh, Engkau mengangkat saya dan menerima saya apa adanya Terkadang saya berpikir, ah sudah terlalu banyak kesalahan yg saya lakukan. Mana mungkin Bapa mau menerima saya yg cacat dan hina spt ini, yg bisanya cm bikin malu Bapa saja. Tetapi Engkau tidak peduli, Engkau mencari saya, Engkau tdk menyerah terhadap saya, ketika Engkau melihat saya dr jauh, Engkau berlari dan segera memeluk saya, Engkau tidak peduli dengan badan saya yg bau. Engkau tau ketika saya haus dan lapar Engkau yg selalu mencukupkan kebutuhan saya Engkau tau kapan saya minum susu, dan kapan saya makan nasi. Engkau merasakan kesedihan hati saya Engkau tau apa sebenarnya yg menjadi akar masalah saya Engkau lah Bapa yg paling dekat, lebih dekat dr siapapun di dunia ini S...

Selesai Babak yang Ini

Dari November 2012 saya mengumpulkan proposal Skripsi, dan berjalan dengan mulus sampai tangan pembimbing pada bulan februari 2013, Semuanya berjalan begitu saja tanpa hambatan, Saya mendapatkan pembimbing yang saya ajukan sendiri walaupun saya tidak tahu pembimbing-pembimbing ini seperti apa dan karakter mereka seperti apa, karena selama kuliah saya tidak terlalu dekat dengan teman-teman kampus dan dosen-dosen di kampus, karena karakter saya yang sangat sungkan. Topik saya tidak ada direvisi sama sekali, ini artinya bahwa saya bisa maju bebas hambatan di awal. Tapi itu baru awal mula dari perjalanan panjang saya melawan diri sendiri. Saya sendiri juga tidak mau berlama-lama pada step ini. Perjalanan dari februari sampai Agustus yang tidak selalu menemukan titik terang tp bersyukur terang Tuhan selalu menjernihkan pikiran saya perlahan-lahan. Saya semakin menyadari siapa saya dan diri saya di hadapan Allah. Benar-benar perjalanan yang penuh kesedihan dan sukacita selama mengerjakan in...

Menyelam ke Dalam Pikiranku

Kemana ku meminta pertolongan? Kemana ku berteriak? Kemana ku merasa aman? Aku butuh pertolongan.. Aku butuh didengar.. Aku butuh dilindungi.. Selama ini.. Aku mengabaikan perasaan.. Aku hanya kobarkan logika.. Karena sepertinya tak ada yg peduli pd hati seorang anak kecil yg polos dan tersakiti. Perasaanku.. Nyalalahhhh. Perasaanku.. Nyalalahhhh. Cukup lelah aku dengan pikiranku. Cukup lelah aku membantah hatiku. Cukup lelah aku selalu merasionalkan segala sesuatu. Tdk hanya cukup lelah, tetapi sangat lelah, tak berdaya. Terlihat kuat, padahal rapuh. Terlihat gagah, padahal mudah goyah. Terlihat brilian, padahal membusuk. Luka ini sudah busuk. Sampai tak terasa lg sakitnya. Luka ini butuh diobati. Biar perlahan. Dia berjanji akan merawat luka ini. Aku tenang, jiwaku tenang. Berseru padaNya, tdk pernah sia2. Dalam keheningan, dalam ketidaksabaranku, Allah bekerja tak bersuara tapi semakin nyata kurasakan. Aku mau sembuh Aku mau pulih Aku mau.. Aku mau.. Seperti seorang anak kecil, aku ...

Kejadian aneh yang kualami

Salatiga, 26 August 2013 Dari minggu pagi aku menyimpan bagian ini tetapi ternyata tak mampu memori ingatanku menyimpan ini sendiri, aku akan mencoba menuliskannya. Seperti kebiasaan setiap pagi, Sabtu pagi lalu aku datang dengan penuh rasa rindu kepada sang Pencipta dan Penebus yg penuh kasih. Menikmati waktu teduh bersamaNya adalah waktu yg tak bisa digantikan dengan apapun, harta, jabatan, kenyaman hidup, nilai bagus, pacar tampan, atau apapun silahkan anda sebutkan sendiri. Sampai aku ditegur lagi pada keping puzzle hidupku mengenai ketakutan. Bagiku ketakutan ada sahabat kecil yg awalnya ramah tetapi lama2 berubah menjadi monster yg menakutkan, lebih menakutkan drpd ayahku yg garang. Ketakutan berubah menjadi hewan buas yg siap menerkam dan berhasil membuatku mjd lumpuh tak berdaya. Hingga berada pd satu titik poin waktu teduh yaitu komitmen dan penerapan, aku memutuskan untuk TRUST kepada Allah, mempercayakan diriku yg rapuh ini kpd Allah yg telah merencanakan segala s...

Lebih Buas dari Kakiku

Salatiga, August 27 2013 Kata Mamah, dari kecil kakiku ini gak kuat untuk berdiri dan berjalan, sudah umurnya untuk berjalan, tetapi aku masih belum bisa berjalan dengan baik, baru berdiri sebentar langsung jatuh. Kata nenekku, mamah sering menangis ketika melihatku belajar berjalan. Entah nutrisi yang kurang menyebar ke seluruh tubuh atau kakiku memang kecil. Sampai aku beranjak besar, tidak jarang aku sering terjatuh. Tetapi karena aku sudah sering terjatuh, maka rasa sakit itu tidak berasa. Aku sudah terbiasa. Bahkan sampai usiaku kepala 2 ini, aku beberapa kali tersandung dan terjatuh dengan pipi atau tubuh mencium aspal. Orang lain merasa kasian, tapi bagiku sudah biasa aku terjatuh. Sejak SMP, aku membuktikan kepada diriku sendiri bahwa kakiku tidak selemah itu. Aku berlari keliling kota setiap sore 3 kali seminggu, dan hasilnya aku mendapat juara 1 tingkat daerah sebagai pelari 400 meter (ini nyata, ada sertifikatnya loh xixixi). Tetapi sekali lagi itu bertujuan...

Lelah yang Dimakan Semangat

Salatiga, September 5 2013 Malam yang empuk ini selalu menjadi saksi terciptanya hasrat untuk menulis. Walaupun agak jenuh mengetik lagi karena seharian sudah berada di depan laptop untuk menyelesaikan projek "penting". Tapi entah lah, semester demi semester, kelelahan yang terkadang menghasilkan kegagalan ataupun setitik pencerahan tak pernah lebih besar dengan semangat yang selalu disediakan hari lepas hari. Andai bisa memutar waktu, aku tak akan memilih mundur ataupun pause. PLAY TERUS. hahaha. Karena aku tau ada kekuatan yang lebih besar dari apapun di depanku. Aku tidak terlalu peduli apa kata orang yang tak pernah mengerti siapa diriku. Aku juga gak punya waktu untuk membandingkan hidupku dengan orang lain, hidupku sudah lebih dari cukup. Setiap orang punya bagiannya masing-masing, aku pun ingin menjalani apa yang menjadi bagianku. Hari ini sama seperti hari-hari biasanya, hanya bedanya hati ini selalu diperbaharui. Mata semakin terbuka. Pikiran semakin lua...